Gelombang Otak di utak-atik


Tumben, hari itu aku merasa wajib dan harus datang ke kuliah.

Entah kenapa kesadaranku untuk datang, lebih seperti semangat menemukan harta karun yang sangat berharga.

Exciting banget, sampai-sampai aku datang tepat waktu. Tidak seperti biasanya kurasa.

Kuliah itu sangat membuatku antusias, mungkin karena menyadari bahwa itu adalah kuliah terakhir sebelum aku mendapatkan libur yang cukup panjang. Yah, seperti kuliah perpisahan misalnya?

Setelah jam itu selesai seorang teman mengajakku untuk ke Gramed, mencari buku untuk tugas kuliah. Tapi entah kenapa aku tidak berkeinginan untuk pergi kesana. Entahlah….hari itu aku merasa capek, atau mungkin lebih tepatnya aku harus istirahat sejenak melapaskan lelahku sebelum nanti aku harus datang ke tempat yang sama dan duduk mendengarkan ceramah dari dosen yang lainnya.

Kontrakanku tak jauh dari kampus, hanya butuh waktu sepuluh menit untuk bisa sampai kesana. Lumayan dekat tapi aku membutuhkan waktu yang cukup lama untuk bisa sampai ke tempat kerjaku.

Cukup pantaslah harga yang harus aku bayar untuk bisa mewujudkan semua impianku. Dan aku pantas untuk mempertahankannya demi semua cita-citaku.

Ku dapati kontrakan ku itu sepi, karena dua orang penghuni yang lain memang pergi untuk beberapa waktu, sehingga hanya tersisa dua dari kami yang harus tinggal dirumah itu.

Aprita, teman satu kamarku sedang berkeluh kesah tentang rambut barunya.

Yeah….rambut yang harusnya lurus panjang dan berkilau itu tampak kaku seperti besi dan sangat…sangat….membuat hatinya sedih, seperti yang dia bilang.

Dia merasa bahwa harga yang harus dibayarnya tidak pantas, dan rambut yang didapatnya tidak semenarik yang dia bayangkan.

Berhari-hari sebenarnya aku mendengar ocehannya tentang rambutnya yang katanya kaku itu. Dan aku kadang hanya harus mengangguk-anggukkan kepalaku tanda aku setuju dan sependapat dengannya. Paling tidak itu menandakan bahwa aku juga turut sedih atas apa yang menimpa dirinya.

Sore itu setelah mendengar keluh kesahnya aku mengajaknya untuk keluar malam harinya. Ke Gramed misalnya, untuk sekedar bersenang-senang dan mencari buku yang layak untuk dibeli dan dibawa ke rumah.

Sia-sia juga ajakanku malam itu, karena tak sedikit pun rasa tertarik dirinya mendengar ajakanku. Well….memang aku aneh mengajaknya untuk pergi kesana, ke tempat yang sangat tidak cocok untuk menghabiskan waktu dan melihat-lihat keindahan di dunia ini.

Tahu kan?

Disini sangat jarang sekali didapati mall yang menyediakan semua kebutuhanmu,

Bahkan, biarpun kamu tidak mendapatkan apa yang kau mau, tapi kamu masih bisa menghabiskan waktu senggangmu untuk sekedar melihat-lihat semua barang-barang yang mereka tawarkan di etalasenya. Atau kamu juga bisa menyegarkan mata, dengan melihat orang-orang yang hilir mudik dengan semua tingkahlaku mereka.

Mall itu tidak kamu dapatkan ditempat ini, karena daerah ini, daerah tempat ku tinggal sekarang ini masih tergolong Propinsi yang baru.

Masih berbenah untuk bisa mendapatkan perhatian dari mata dunia.

Dan aku tidak sedikitpun menyesal telah terkurung disini,…karena meskipun semua orang melempar sinis terhadap duniaku ini, aku masih bisa tersenyum menikmati segala sesuatu yang sangat terbatas disini.

Satu jam berlalu dengan sangat cepat, tanpa sadar aku harus bersiap-siap pergi menuju tempat ku menuntut ilmu, malam itu aku menyusuri jalanan yang sepi dan gelap seperti biasanya untuk sampai di kampus, satu-satunya kampus yang mengajarkan Ilmu Hukum di kota itu.

Kudapati dosen telah memulai pelajarannya, kali ini aku terlambat lagi. Yah, Aku memang sering terlambat masuk kuliah. Hehehhe…..

Dan kau tahu? Hal yang paling menyebalkan di dalam kelas adalah ketika kamu telah mendapatkan teman. Teman akrab salah satunya. Dia akan membuat kamu mengalihkan semua perhatian mu dari mulut dosen yang selalu menjelaskan materi kuliah, dan menggantinya dengan materi yang kalian mau untuk sekedar melepaskan bosan di dalam kelas. Hasilnya lumayan juga. Kamu akan lupa tentang semua yang telah dijelaskan dosen di depan kelas. Sangat adilkan?

Mungkin frekuensi otak ku kali ini sama dengan frekuensi dari otak dua anak muda disampingku. Dan kita sangat sepakat bahwa setelah pulang kuliah malam itu, kita akan mencari buku di Gramed. Satu-satunya toko buku yang lengkap di kota ku.

Sedikit dingin, karena malam itu hujan sempat mengguyur. Membuat rasa malas dan kantuk hinggap begitu saja. Tapi tak urung kita pergi juga ke toko tempat kami akan mencari semua buku yang layak untuk aku beli.

Aku telah menyesal, tadi sore menolak ajakan salah satu temanku. Well…semua sudah terlanjur, dan aku tidak menyesal karena sesampainya aku disana kudapati diskon besar-besaran akhir tahun.

Banyak buku yang di diskon, dan tanpa sadar aku telah berdiri disana dengan semua buku ditanganku. Yah, tidak tanggung-tanggung aku sudah mendapatkan lima buku yang kuharap mempunyai cerita yang bagus. Dan menawarkan sesuatu yang sangat berharga di dalamnya.

Tidak kemaruk kok, karena aku hanya harus membayar 80 ribu untuk mendapatkannya.

Aku menemukan buku yang cukup bagus isinya, buku tentang mengubah foto menjadi sesuatu yang sangat artistik, tapi sayang. Sepertinya buku itu memang tidak berjodoh dengan ku, karena pada akhirnya buku itu tidak berakhir di dalam tas belanjaan ku.

Buku yang bagus padahal,…

Tapi dari semua yang telah aku beli, aku tak lupa memasukkan buku “ Bukan Pasar Malam”-nya Prmoedya Ananta Toer kedalam list belanjaan ku.

Buku itu tentang roman di masa-masa perjuangan dulu. Buku yang bagus, karena sekali kita membuka halaman-halamannya kita akan kesedot kedalam pusaran waktu. Dan membawa kita flash back kembali ke masa lalu yang sangat sarat perjuangan.

Buku itu aku beli karena ada tugas tentang mengulas buku-buku yang mengulas tentang budaya. Dan aku tampaknya tak akan pernah menyesal telah membelinya.

Apa kabar tugasku itu?

Ternyata malah belum sempat aku sentuh untuk sampai tulisan ini aku buat. Aku terlalu malas untuk menyentuh semua tentang tugas-tugas kuliah. Dan sekarang? Apa yang telah aku lakukan?

Yang jelas, aku sekarang membutuhkan waktu paling tidak hampir sepuluh menit lebih untuk menulis cerita ini.

Dan besok, setelah sampai di tempatku kerja. Aku membutuhkan waktu yang hampir sama untuk memposting semua yang telah aku tulis ini. Maklum, hare gene aku tetap belum punya modem sendiri yang seharusnya aku miliki dari dulu kala. Sehingga aku tidak perlu susah-susah mencari jaringan internet.

Well, sudah dulu ya…aku mau meneruskan membaca buku Bukan Pasar Malam-nya Pramoedya….dan berharap aku bisa menyelesaikan semua tugasku itu hari ini. I wish…

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: