Review Bukan Pasar Malam


Review Buku Bukan Pasar Malam Pramoedya Ananta Toer

Judul Buku      : Bukan Pasar Malam

Pengarang       : Pramoedya Ananta Toer

Kategori          : Roman

Penerbit           : Lentera Dipantara

Tebal               : 104 halaman

Cetakan           : ke-7, tahun 2009

Buku setebal 104 halaman, terbitan Lentera Dipantara ini menceritakan tentang bagaimana dunia ini tidak seperti pasar malam, dimana manusia berduyun-duyun lahir di dunia dan berduyun-duyun pula kembali pulang, seperti dunia pasarmalam, seorang-seorang mereka datang. Seorang-seorang mereka pergi. Dan yang belum pergi dengan cemas-cemas menunggu saat nyawanya terbang entah kemana.

Dikisahkan juga bagaimana keperwiraan seorang dalam revolusi yang pada akhirnya melunak ketika dihadapkan pada kenyataan sehari-hari: ia menemukan ayahnya yang seorang guru penuh bakti tergolek sakit karena TBC, anggota keluarganya yang miskin, rumah tuanya yang sudah tidak kuat lagi menhan arus waktu, dan menghadapi istri yang cerewet.

Potongan-potongan kisah itu diungkapkan dengan sisa-sisa kekuatan jiwa yang berenangan dalam jiwa seorang mantan tentara muda revolusi yang idealis. Lewat tuturan yang sederhana dan fokus, tokoh “Aku” dalam roman ini tidak hanya mengkritik kekerdilan diri sendiri, tapi juga menunjuk muka para Jenderal atau pembesar-pembesar negeri pasca kemerdekaan yang hanya asik mengurus dan memperkaya diri sendiri.

Disini kita bisa dengan jelas dan gamblang mendapati bahwa Pramoedya Ananta Toer dengan sangat lihai membawa kita kembali kepada masa ketika awal kemerdekaan. Gambaran tentang kegelisahan seorang anak mendapati surat dari seorang paman yang mengabarkan berita duka, bahwa Ayahanda yang sangat dicintainya terbaring lemah di rumahsakit.

Gambaran tentang pandangan hidup seorang pejuang revolusi yang berakhir menjadi seorang pegawai kecil yang terlupakan. Dan bagaimana demokrasi mempengaruhi semua pandangan hidupnya tentang kemiskinan, dan semua hal yang pantas dan tidak pantas didapat oleh setiap orang. Karena orang yang tidak punya selamanya akan menjadi penonton dari sandiwara di dunia ini. Dunia demokrasi dimana kamu bisa menjadi apapun yang kamu mau.

Dan kesadaran bahwa nasib setiap anak manusia itu tidak ada ditangan manusia itu sendiri, bahwa umur, kesehatan dan kematian itu ada ditangan Tuhan. Kita hanya bisa berserah diri dan selalu berjuang untuk bisa melewati semua cobaanNya.

Dan pada akhirnya satu persatu dari kita, harus meninggalkan bumi ini. Sedangkan satu persatu juga anak manusia terlahir di dunia ini. Karena dunia ini bukan pasar malam, dimana orang terlahir ramai-ramai, dan meninggal beramai-ramai.


I.            Tentang penulis

Pramoedya Ananta Toer lahir pada 1925 di Blora, Jawa Tengah, Indonesia. Hampir separuh hidupnya dihabiskan dalam penjara sebuah wajah semesta yang paling purba bagi manusia-manusia bermartabat; 3 tahun dalam penjara Kolonial, 1 tahun di Orde Lama, dan 14 tahun yang melelahkan di Orde Baru (13 Oktober 1965-Juli 1969, pulau Nusa Kambangan Juli 1969-16 Agustus 1969, pulau Buru Agustus 1969-12 Nopember 1979, Magelang/Banyumanik Nopember-Desember 1979) tanpa proses pengadilan. Pada tanggal 21 Desember 1979 Pramoedya Ananta Toer mendapat surat pembebasan secara hukum tidak bersalah dan tidak terlibat dalam G30S PKI tetapi masih dikenakan tahanan rumah, tahanan kota, tahanan negara sampai tahun 1999 dan wajib lapor ke Kodim Jakarta Timur satu kali seminggu selama kurang lebih 2 tahun. Beberapa karyanya lahir dari tempat purba ini, diantaranya Tetralogi Buru ( Bumi Manusia, Anak Semua Bangsa, Jejak Langkah, dan Rumah Kaca ).

Penjara tak membuatnya berhenti sejengkal pun menulis. Baginya, menulis adalah tugas pribadi dan nasional. Dan ia konsekuen terhadap semua akibat yang ia peroleh. Berkali-kali karyanya dilarang dan dibakar.

Dari tangannya yang dingin telah lahir lebih dari 50 karya dan diterjemahkan ke dalam lebih dari 42 bahasa asing. Karena kiprahnya di gelanggang sastra dan kebudayaan, Pramoedya Ananta Toer dianugerahi pelbagai penghargaan internasional, di antaranya: The PEN Freedom-to-write Award pada 1988, Ramon Magsaysay Award pada tahun 1995, Fukuoka Cultur Grand Price, Jepang pada tahun 2000, tahun 2003 mendapatkan penghargaan The Norwegian Authours Union dan tahun 2004 Pablo Neruda dari Presiden Republik Chile Senor Rocardo Lagos Escobar. Sampai akhir hidupnya, ia adalah satu-satunya wakil Indonesia yang namanya berkali-kali masuk dalam daftar Kandidat Pemenang Nobel Sastra.

II.            Kaitan Buku Bukan Pasar Malam dengan Ilmu Budaya Dasar

1.      Manusia dan Cinta Kasih

Kasih sayang dialami oleh setiap manusia, karena kasih sayang merupakan bagian hidup manusia. Karena sejak lahir anak telah mengenal kasih sayang.

Bermula dari surat yang datang setelah dua minggu dia keluar dari penjara. Surat yang pedas yang telah dia kirimkan dan surat balasan dari Ayahnya yang sangat membuat air matanya jatuh. Dan saat itu pulalah dia berjanji untuk memperbaiki semua kelancangannya.

Dan setengah tahun kemudian setelah surat pertama dia dapatkan, kali ini surat itu datang dari seorang paman yang ada di Blora. Yang mengabarkan bahwa ayahandanya sakit. Sakit malaria dan batuk yang kemudian dengan ambeien. Sampai akhirnya mereka tahu bahwa ayahhandanya terkena tbc. Dan sekarang ayahnya sedang dirawat di rumah sakit, setelah hampir empat kali memuntahkan darah.

Disini digambarkan bahwa kerasnya hati seorang anak, tetap bisa cair juga ketika mendapati bahwa ayahandanya sakit. Surat yang singkat tapi telah bisa mengambarkan semua kejadian yang telah dialami oleh ayahandanya. Rasa sayang kepada keluarga, kepada ayah yang sudah membesarkannya dari kecil.

Kita bisa mengambil pelajaran yang sangat berharga dari sepotong kisah ini, yaitu bagaimana untuk bisa selalu menjadi anak yang berbakti kepada orang tua, dan tidak akan pernah menyalahkan sesuatu yang memang bukan salah mereka, memandang sesuatu masalah dari segi manapun sehingga tidak akan pernah ada salah paham yang terjadi antara seorang anak dan ayahnya / orang tuanya. Anak adalah cerminan orang tua, karena pribadi seorang anak juga merupakan bentukan orang tua/keluarga. Sehingga kalau kita menjadi orang tua, harus selalu menekankan hal-hal yang baik kepada anak kita.

Menjadi anak yang berbakti tidak harus disaat orangtua kita berada di usia senja, karena kita tidak akan pernah tahu kapan pastinya nyawa manusia itu dipisahkan dari raganya. Sungguh kita tidak akan pernah menjadi seperti sekarang ini kalau tidak karena orang tua kita. Dan harapan mereka tentang kita pastilah semua yang terbaik, sudah seharusnya juga kita selalu merawat mereka, dan selalu bisa menjadi tumpuan mereka disaat mereka jatuh. Tidak ada salahnya untuk selalu menuruti keinginan mereka, asalkan membawa kita kepada kemanjuan. Dan jangan pernah sombong atau angkuh, karena semua yang terjadi dalam hidup kita, pasti tidak terlepas dari peran keluarga. Keluarga yang selalu mencintai kita, dan menyayangi kita dengan sepenuh hati.

2.      Manusia dan Keindahan

“Lihatlah, betapa cantiknya hutan itu”

Sepenggal kalimat dalam untaian cerita itu menunjukkan kepada kita, bahwa manusia itu bisa menilai sesuatu itu dari berbagai segi. Hutan mungkin bagi sebagian orang tidak terlalu mengesankan, bahkan mungkin ada diantara kita yang menganggap bahwa hutan itu hanyalah kumpulan dari beberapa pohon tidak terurus yang dibiarkan hidup diatas bumi saja.

Aku memandang keindahan hutan itu. Pernah juga dulu aku memasukidulu waktu masih jadi pandu dan berziarah ke makam Raden Ajeng Kartini. Makam itu tak jauh dari kereta kami waktu itu. Tiba-tiba sebuah jurang melela dibawah mataku. Dan dengan sendirinya saja aku berseru:

“Lihatlah jurang itu. Alangkah dalamnya!”

Kupandang istriku. Ia membuka tapuk matanya dan kemudian mata itu turun pula dan menutup kembali.

Aku mengeluh.

Ingin aku memperkenalkan keindahan daerahku dengan jurang dan hutannya, dengan kijang dan monyetnya. Ya, ingin sekali.

Tidak dipungkiri bahwa semua orang itu mempunyai rasa keindahan, walaupun kadang setiap orang menilai keindahan tentang sesuatu hal itu berbeda. Rasa keindahan adalah salah satu bentuk yang menunjukkan bahwa manusia itu diberkahi cipta, rasa, dan karsa. Disamping untuk menciptakan keindahan, tetapi juga untuk menghargai keindahan semua ciptaan Tuhan.

3.      Manusia dan Penderitaan

Semua manusia selalu tidak akan pernah lepas dari penderitaan. Manusia tidak akan pernah bisa mengelak dari penderitaan, dan sekuat apa pun orang pasti pernah merasakan bahwa penderitaan itu kadang terlalu berat. Tapi ketahanan setiap orang untuk menahan derita tidak pernah sama. Karena karakter serta cara pandang dan bagaimana menghadapi penderitaan setiap orang itu berbeda-beda, tergantung dari pola tingkah laku yang pernah ia terima waktu kecil. Lingkungan tempat dia tinggal juga tidak kalah pentingnya, dalam membentuk sebuah karakter ketahanan dalam menghadapi sebuah penderitaan.

Dalam buku ini, tergambar jelas bahwa manusia itu ketika didera oleh sakit yang sangat parah, mereka merasa bahwa dirinya sangat menderita.

Penderitaan manusia yang tertangkap dalam coretan kisah ini yaitu yang terlihat dalam cuplikan paragraf berikut:

“Mbak, Mbak, Mas datang.”

Ia hilang dalam kamar.

Tak ada orang yang memperhatikannya. Kembali obrolan mengamuk pula. Dan dikala adikku yang terkecil itu mendekati daku. Berbisik:

“Mbak sedang menangis.”

Jelas, bahwa salah satu hal yang dilakukan oleh manusia ketika dirinya dilanda suatu penderitaan yaitu menangis. Dengan menangis, manusia akan merasa bahwa semua penderitaannya akan terhapus, walaupun sebenarnya tidak. Tapi bagi sebagian orang, menangis dapat mengurangi beban yang dideritanya.

Lalu dalam paragraf yang lain;

“Mengapa engkau begini kurus?”

Tangisnya kian tertekan dan ditekannya agar tak membadai. Dan kemudian aku begitu pula.

“Sudah lama aku sakit, Mas,” aku mendengar suara yang patah-patah.

“Engkau sdah pergi ke dokter?” aku bertanyadengan suara patah-patah pula.

“Aku sudah pergi ke dokter, tapi masih tetap begini saja,” suara yang patah-patah juga.

Disini kita bisa mencerna bahwa kadang, ketika badai penderitaan tidak kunjung reda juga, manusia akan merasa menyerah dengan keadaan yang terjadi. Karena kadang, kita juga tidak punya kuasa untuk menghentikan semua derita yang terjadi kepada kita.

Penderitaan dari Sang adik disini tidak berhenti disini, karena ternyata adik ketiganya itu telah kehilangan bayinya. Bayi yang sudah dikandung selama sembilan bulan itu menghembuskan nafas terakhirnya ketika baru saja terlahir di dunia. Hanya sebentar menghirup udara kehidupan, dan menperdengarkan tangisannya, lalu Tuhan telah mengambilnya lagi.

Penderitaan tidak hanya sampai disini, ketika tokoh dalam cerita ini mendapati seorang ayah yang senantiasa dia sayangi terbaring sakit dirumah sakit, membuat hatinya sakit. Ayahnya yang dulu seorang nasionalis serta pejuang bangsa itu dikalahkan oleh penyakit Tbc.

4.      Manusia dan Keadilan

Keadilan adalah sesuatu yang sangat diharapkan dalam cerita roman ini. Kenyataannya semua itu malahan tidak tergambar dengan jelas dalam certita ini.

Sebuah kenyataan yang sepenuhnya salah, ketika tokoh ini mendapati dirinya yang dulu bekas pejuang tentara kemerdekaan malah hanya berakhir sebagai pegawai rendahan dan terlupakan.

Ketidakadilan juga terlihat dalam dialog berikut;

“Barangkali penyakitnya itu didapatnya waktu jadi pengawas sekolahtiap hari mengayuh sepeda limabelas sampai duabelas kilometer,” paman berkata.

“Tidak,” kata tuanrumah. “Aku yang sudah lama jadi guru bisa mengatakantidak. Sungguh, penyakitnya bukan karena itu. Karena beliau minta kembali jadi guru itulah sebabnya. Limabelas-duapuluh kilometer mengayuh sepeda itu bukan perkara berat untuk seorang guru. Yang berat ialah mengajar, menelan pahit getirnya kesalahan-kesalahan pendidikan orangtua si murid. Itulah yang gampang sekali menghancurkan seorang guru.

Penggalan cerita diatas, menggambarkan bahwa kadang keadilan itu sangat susah didapatkan. Bagaimana seorang guru yang rela berbakti kepada negara untuk mengajar malah mendapatkan suatu penderitaan. Tidak cuma penderitaan batin tetapi juga penderitaan fisik.

Tidak adil bahwa seseorang harus rela berjuang untuk mencerdaskan anak bangsa, tetapi negara tidak terlalu memperhatikan nasib mereka, peristiwa ini bisa kita tangkap dari cuplikan cerita berikut;

Nampak sekali bahwa kemauan dan keinginan ayah tambah berubah-ubah. Pagi itu seorang jururawat yang semalam kena dinas jaga malam datang ke rumah kami dan menyerahkan selembar kwitansibulan Mei. Kwitansi itu adalah dari ayah. Aku tak mengerti mengapa voorschot gaji bulam Maret yang dipintanya. Dan di kala hal ini kutanyakan pada paman, ia mengatakan:

“Sejak kita merdeka, guru blum lagi dibayar. Hampir setengah tahun ini.”

Dan aku juga mengerti.

Dari cuplikan cerita diatas terang sekali bahwa nasib guru pada awal kemerdekaan sangatlah tidak diperhatikan. Bagaimana bisa orang yang berbakti dan rela mengorbankan waktunya untuk mengajar, dan mendidik agar generasi penerus bangsa ini kian maju malah terseingkirkan seperti itu.

Lalu dalam cuplikan yang lain, dikatakan bahwa;

“O – manusia yang terkubur itulah yang telah menurunkan kami. Dulu ia bercita-cita tinggi juga. Dulu ia mengalami percintaan jugacinta yang gagal dan tak gagal. Dulu ia sering terdengar menyanyimenyanyikan lagu daerah, lagu-lagu kebangsaan, dan lagu-lagu sekolahan Belanda. Dan telah beribu-ribu murid dibukakan jalannya. Dulu ia giat memperjuangkan tercapainya kemerdekaan bangsanya: selama tigapuluh tahun. Dan kini, belum lagi setahun kemerdekaan tercapai ia sudah tak digunakan lagi oleh sejarah, oleh dunia, dan oleh manusia.”

Tampak sekali keadilan sangat didambakan dalam era awal kemerdekaan. Karena ternyata para pejuang kemerdekaan itu harus hidup dengan seadanya, sedangkan Jenderal-jenderal dan orang-orang yang meduduki jabatan malah asik memperkaya diri sendiri, dengan bermain di dalam kursi pemerintahan. Hanya untuk mendapatkan kedudukan dan menambah kekayaan pribadi saja, tanpa memperhatikan nasib penduduk yang lemah.

Jelas bahwa setiap manusia menghendaki adanya keadilan. Tetapi kadang keadilan itu sangat sulit didapatkan.

5.      Manusia dan Tanggung Jawab

Kesanggupan manusia untuk melaksanakan tugasnya itu adalah sebuah tanggungjawab. Dan jika manusia itu tidak sanggup untuk memenuhi kewajibannya, maka dia dianggap tidak bertanggungjawab.

Makna tanggungjawab dalam cerita ini bisa tertangkap dengan jelas dalam setiap babnya.

Tanggungjawab seorang guruayah dari tokoh ini, untuk selalu mengajar, dan membenahi tatanan kelakuan dari kesalahan mengajar orangtua murid, serta rela memberkorban untuk mengayuhkan sepedanya berpuluh-puluh kilometer demi mengabdi kepada negara, dan untuk mewujudkan tujuan negara yaitu mencerdaskan bangsa.

Tanggungjawab seorang guru yang patut dicontoh, ketika dia mendapatkan sesuatu yang seharusnya bisa membuat dirinya kaya, malahan dibiarkan begitu saja. Yah, semua itu karena kewajibannya. Kewajiban seorang guru yang dipegang teguh sampai akhir hayatnya.

Makna pengabdian dan kesadaran manusia dapat kita lihat dalam cuplikan certia berikut:

“Barangkali sudah cukupkah apa yang kukatakan. Tidak kurang dan tidak lebih. Benar, ayah Tuan gugur di lapangan politik. Ayah Tuan mengundurkan diri dari partai dan segala tetek-bengek agar bisa menghindari manusia-manusia badut pencuri untung itu. Tapi karena perhatiannya pada masyarakat terlalu besar itulah ia tak bisa melepaskan diri betul-betul dari semuanya itu. Tapi Tuan hendaknya merasa bangga punya ayah seperti marhum, Bukan?” ia memandangku.

Aku tak menyahutnya. Terdengar ia mengeluh.

“Kalau ayah Tuan di kota besarbisa mengembangkan kepribadiannyabarangkali sudah jadi menteri.”

Disini kita lihat bahwa pengabdian kepada negara itu lebih mulia, kesadaran bahwa ikut dalam perpolitikan yang saat itu sangat kotor tidak akan pernah mendatangkan kebahagiaan batin kepadanya. Sehingga ayah si tokoh malah melepaskan semuanya. Hanya untuk berbakti kepada negara, dengan kembali mengajar.

6.      Manusia dan Pandangan Hidup

Tokoh disini mempunyai cara pandang tersendiri dalam kehidupannya. Ia merasa bahwa hidup dalam negara demokrasi membuat dirinya kesal. Baginya demokrasi sungguh suatu sistem yang indah. Karena engkau boleh jadi presiden, engkau boleh memilih pekerjaan yang engkau sukai. Engkau mempunyai hak yang sama dengan orang-orang yang lainnya. Dan demokrasi itu tidak membuatnya harus menyembah dan menundukkan kepala pada presiden dan menteri atau paduka-paduka lannya. Dan engkau boleh bertindak sekehendak hatimu bila masih berada dalam lingkungan batas hukum. Tapi ketika engkau tidak punya uang, maka engkau akan lumpuh tidak bisa bergerak. Di negara demokrasi engkau boleh membeli barang yang engkau sukai. Tapi kalau engkau tidak punya uang, engkau hanya boleh menonton barang yang engkau ingini itu. Ini juga semacam kemenangan demokrasi menurutnya.

7.      Manusia dan Kegelisahan

Sedikit mundur kebelakang, ketika awal dari cerita ini dimulai. Kita akan mendapati bahwa manusia itu sangat mudah sekali untuk merasa gelisah. Salah satu yang membuat gelisah dalam diri tokoh ini yaitu ketika surat dari paman yang berbunyi:

“Kalau bisa, pulanglah engkau ke Blora untuk dua atau empat hari. Ayahmu sakit. Tadinya malaria dan batuk. Kemudian ditambah dengan embeien. Akhirnya katahuan beliau kena tbc. Ayahmu ada di rumahsakit sekarang, dan telah empat kali memuntahkan darah.”

Mula-mula aku terkejut mendengar berita itu. Sesak di dada. Kegugupan datang menyusul. Dalam kepalaku terbanyang: ayah. Kemudian : uang. Dari mana aku dapat uang untuk ongkos pergi? Dan ini membuat aku mengelilingi kota Jakarta, mencari kawan-kawan dan hutang.

Kegelisahan seorang anak yang telah lama meninggalkan kota tempat kelahirannya, dan ketika mendapati kabar dari seorang paman, yang mengabarkan berita tentang ayahandanya yang sakit.

Kegelisahan tentang bagaimana cara agar ia bisa pulang kembali, untuk menemui ayahnya. Ketika dia tidak mempunyai uang.

8.      Manusia dan Harapan

Setiap manusia selalu mempunyai harapan-harapan tentang masa depan. Begitu pula tokoh dalam cerita ini, harapan-harapan si tokoh tentang sebuah masa depan yang indah.

Mataku kuhadapkan padanya. Sekali lagi pandanganku tertumbuk pada matanya yang dulu bagus dan yang kini tak menarik hatiku lagi itu. Sebentar saja. Kedengaran pandanganku kujatuhkan pada arloji-tangan. Menjawab:

“Hampir jam sembilan.”

“Barangkali telegram sudah dikirimkan.”

“Moga-moga sudah,” kataku.

Dan pandanganku kulemparkan ke jendela lagi. Telegram yang terbayang dalam kepalaku sekarang. Barangkali saja telegram yang bunyinya “besok sampai dengan nyonya” itu bisa jadi obat ayah. Sebetulnya harapan itu bukan orisinil lagi. Semalam seorang kawan bilang, sudah lama engkau ditahandua setengah tahun! Dan selama itu tentunya ayahmu merindukan kedatanganmu. Bukan itu saja. Pasti dia menguatirkan keadaanmu juga. Dan itulah yang mendorong aku mengirimkanmaksudku menyuruh kirimkantelegram itu. Dan kawan itu berkata juga, pergilah. Barangkali kedatanganmu itu bisa jadi obat yang mujarab untuknya.

Harapan tentang masa depan juga tergambar dalam potongan kenangan masa lalunya, tentang pengharapan bisa menikah dengan seorang wanita cantik, dan masa depan masa yang lebih cerah.

Pikiran seperti itu tiba-tiba mati waktu mataku jatuh pada sebuah dusun ditengah-tengah sawah yang diselimuti rumpun bambu dan pohon-pohonan. Aku tahu betul keadaan dusun itu. Dusun itu, dulu ada dalam kekuasaan garong. Sekali akudalam pasukanberpatroli ke sana dan membuat laporan panjang. Dalam laporan itu beku di lemari. Dan aku berkenalan dengan wanita cantik. Karena dusun itu kepunyaan tuan tanah, datang saja pikiran begini: dia mesti anak blaster. Tapi aku tidak peduli. Dan bapaknya berjanji padaku: kalau bapak mengawini anakku, bapak tak perlu kerja. Sawah cukup luas. Dan bapak boleh mengambil separoh dari sawah-sawahku. Dan aku jadi mabok kepayang mendengar tawaran itu…..

Kemudian aku pergi lagi kesana, tapi wanita cantik itu telah digondol oleh garong. Dan aku kembali dengan penyesalan dan juga kegembiraan karena tak jadi menggadaikan diri. Tapi kecantikan dan nasib wanita itu memburu-buru saja dalam kepalaku.

Harapan si tokoh agar ayahandanya lekas sembuh juga mencerminkan bahwa manusia itu masih ada sesuatu yang musti dipertahankan. Sesuatu keyakinan bahwa masih ada kemungkinan untuk bisa menyembuhkan ayahnya. Dan keyakinan dan harapan itu juga disertai dengan usaha.

Barangkali karena banyak kali aku melihat keajaiban di dunia ini, dan barangkali juga karena sudah empat-lima kali turut mengalami dalam dunia mistik, atau barangkali juga karena aku yang lemah, atau barangkali juga karena hal-hal lainnya lainnya lagi yang tak kuketahuimasih ada saja kepercayaanku pada kemampuan dukun. Aku tak tahu betuk mengapa.

Tergambar jelas, bahwa si tokoh masih mempunyai harapan yang disertai dengan usaha, untuk bisa menemukan obat untuk menyembuhkan ayahandanya.

Kesimpulan

Dalam hidup, manusia hanya bisa menjalaninya. Berusaha untuk bisa mengarungi lautan kehidupan dengan badai yang siap menerjang serta karang yang siap menghantam.

Buku ini menceritakan bahwa manusia itu hanya bisa pasrah terhadap nasib, manusia hanya bisa berusaha untuk menjalani kehidupan dengan sebaik mungkin untuk mencapai kesempurnaan. Tetapi pada akhirnya umur dan kesehatan itu hanya Tuhan yang tahu. Manusia tidak punya kendali untuk menghentikan semua cobaan.

Harapan, selalu ada untuk orang-orang yang senantiasa yakin bahwa masih ada hari esok yang lebih baik, bahwa akan ada pagi setelah malam, ada pelangi setelah hujan. Kesusahan dan penderitaan hari ini, akan berakhir baik.

Manusia yang tabah dan yakin kepada Tuhan pencipta semesta akan selalu tabah menjalani semua penderitaan karena pada akhirnya mereka selalu percaya bahwa masih ada harapan yang lebih baik untuk hari esok.

Manusia juga harus selalu tanggungjawab terhadap semua yang pernah dilakukannya. Karena tanggungjawab itu akan mendatangkan sebuah kepercayaan. Kepercayaan orang lain terhadap kita.

Manusia itu diciptakan di dunia karena Tuhan telah menentukan peran mereka satu-satu, dan tak ada satu pun orang yang diciptakan di dunia ini yang tidak berguna. Hanya kadang manusia tidak bisa mengenali diri sendiri, dan tidak bisa melakoni perannya masing-masing dengan baik, hanya keteguhan untuk mengabdi kepada bangsa dan negaralah yang akan berguna.

Akhirnya, “…manusia bukan berduyun-duyun lahir di dunia dan berduyun-duyun pula kembali pulang….seperti dunia dalam pasarmalam….seorang-seorang mereka datang. Seorang-seorang mereka pergi. Dan yang belum pergi dengan cemas-cemas menunggu saat nyawa terbang entah kemana……”Pramoedya Ananta Toer

One thought on “Review Bukan Pasar Malam

  1. Having read this I believed it wwas really informative.
    I appreciatee you finding the time and effort too put this informatiuon together.
    I once again find myself spending a significant amounht of time both reading and
    posting comments. But so what, it was still worth it!

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s

%d bloggers like this: